Skizofrenia Pendidikan di Indonesia


Lepas beberapa hari yang lalu saya berbincang dengan seorang kawan melalui Whatsapp, dia bercerita tentang beberapa rekan dan kerabatnya yang kerap kali mengalami peristiwa yang konon dianggap mistis, saya meresponnya, dengan berujar jika bisa jadi pengalaman mistis mereka nampak begitu nyata bisa jadi disebabkan oleh ketidakmampuan mereka untuk membedakan realita dan imajinasi, lalu direspon kembali oleh kawan saya, jika mereka semua yang memiliki pengalaman tersebut telah menempuh pendidikan yang cukup tinggi, bahkan dia menambahkan jika ada di antara mereka yang pernah meraih cumlaude di pencapaian akademiknya. Ini menarik.

Ini menarik, kenapa? Ada beberapa isu sosial yang bisa diurai dari sini, pertama, ketidakmampuan untuk membedakan realita dan imajinasi sama sekali tidak serta merta berkorelasi dengan pencapaian akademik, ketidakmampuan seseorang untuk membedakan antara realita dan imajinasi lebih disebabkan pada penyakit mental yang mungkin dimiliki oleh seseorang tersebut, yang perlu ditekankan di sini permasalahannya bukan di ranah pencapaian akademik melainkan pada kondisi mental yang bersangkutan. Jika memang pencapaian akademik memiliki kaitan dengan pencapaian akademik, sudah pasti John Nash, peraih nobel matematika, akan bisa mengatasi kondisi mentalnya yang tak bisa membedakan realita dan imajinasi, yang kemudian beliau terdiagnosa menderita skizofrenia.

Yang kedua, tentang pendidikan, gelar, capaian akademik, terutama dalam konteks Indonesia, menurut pendapat saya tidak menggambarkan secara utuh kompetensi seseorang, jurangnya cukup besar, dalam konteks Indonesia tidak cukup melihat gelar akademik untuk menakar kompetensi seseorang perlu pengujian lebih lanjut, dalam kalimat lain sistem pendidikan di Indonesia permasalahannya cukup pelik, saya melihatnya sistem pendidikan di Indonesia, sebagian besar hanya sebagai fasilitator, fasilitator untuk memberikan akses kekuasaan, memperkuat kekuasaan baik modal dan sosial untuk kelompok tertentu (baca pemilik modal: kapital dan sosial), bukan diarahakan menuju pencerahan ilmu pengetahuan secara utuh. Secara mental, saat ini, terutama di masyarakat tradisional, semi urban atau sebagian besar masyarakat urban yang terpinggirkan, gelar akademik begitu memukau, seakan yang bersangkutan dapat menjadi jawaban bagi banyak permasalahan, salah satu indikator yang cukup menonjol bisa dilihat dari pernak-pernik kampanye pada pemilihan anggota legislatif maupun eksekutif dan undangan pernikahan, hampir sebagian besar nama-nama yang tercantum di sana berisi sederet gelar akademik yang berbaris rapi. 





Komentar